Orang Kupang lagi euphoria. Pilkadal Walikota putaran kedua 3 hari yang lalu dimenangkan oleh Paket SALAM, Jonas Salean - Hermanus Man. Yang membuatnya istimewa adalah, pencalonan SALAM ini tidak didukung oleh partai politik manapun, alias calon independen. Maka banyaklah komentar - komentar bahagia beredar di situs - situs jejaring sosial: rakyat menang atas parpol!
Saya sebenarnya cukup senang dengan kekalahan parpol. Apalagi nampaknya para aktivis parpol itu sudah took it for granted, bahwa di dunia ini tidak ada dan tidak bisa ada sistem demokrasi yang berbeda tanpa parpol. Lebih khusus, advetorial Paket Jerikho misalnya, mengatakan bahwa "Walikota mutlak didukung DPR" yang artinya tanpa dukungan parpol, tidak ada dukungan DPR. Dan tanpa dukungan DPR, Walikota tidak bisa melakukan apa - apa. Bagi saya, argumentasi ini agak melompat.
Tapi saya bukan mau membahas itu. Kembali ke urusan 'rakyat menang atas parpol' karena yang menang adalah calon independen. Lagi - lagi, parpol memang kalah. Tetapi apakah rakyat menang? Dan lebih awal lagi: apakah sang pemenang benar - benar independen?
Mari didudukan: Paket SALAM sebagai kandidat adalah Kandidat Walikota Kupang dari jalur independen. Artinya jalur tanpa dukungan parpol. Tetapi, sama dengan kritik terhadap demokrasi prosedural kita selama ini, bahwa parpol itu hanya jadi 'pintu masuk' kandidat calon kepala daerah dengan transaksi yang sudah menjadi rahasia umum. Parpol tidak melakukan pendidikan politik terhadap rakyat, tetapi hanya hidup bila ada perebutan kursi kekuasaan.
Bagaimana dengan kandidat dari jalur independen? Bisa jadi sama saja. Sekian ribu KTP rakyat bisa jadi hanya sebagai 'pintu masuk'. Nama - nama dibalik KTP itu bisa jadi hanya alat dalam kancah perebutan kursi kekuasaan. Bila demikian, maka klaim rakyat menang atas parpol adalah klaim yang terlalu prematur. Apalagi kita punya pengalaman di kepengurusan 5 tahun sebelum ini. Paket Duo Dan yang didukung parpol kecil - kecil, ternyata dalam perjalanannya Daniel Adoe menjadi Ketua Golkar Kota Kupang. Siapa tahu dalam perjalanan nanti, Jonas Salean akan jadi Ketua Golkar atau PDIP atau Demokrat? Siapa tau.
Ini perlu dibuktikan. Buktikan bahwa independensi itu ada ketika sudah menjadi Walikota. Bukan balas dendam terhadap musuh lama dari rejim 5 tahun sebelumnya. Bukan balas jasa terhadap tim sukses yang paling militan sekalipun. Bukan kepentingan kelompok yang mengkaderkan SALAM dalam birokrasi maupun politik.
Nama - nama di KTP itu bukan hanya pintu masuk, tetapi tanggungjawab. Mereka yang memilih bukan untuk SALAM mendapat kursi kekuasaan, tetapi untuk mengalami perubahan yang lebih baik. Dan seluruh warga Kota Kupang bukan hanya sumber retribusi, tetapi penguasa sesungguhnya yang harus dilayani.
(ditulis 5 tahun lalu, 2012)
Tuesday, March 21, 2017
been long time
too much to think and write, too little time.
Choices
When you have to choose between two things, consider a thorough cost - benefit analysis. Meaning all aspects: financial, social, intellectual, personal sanity (you'll never know sometime this really influential!). Also, consider the time lapse: current as well as future benefits!Where do you want to be in the future?
And when everything seems to be at the same page, then money is the only thing that matters!
And when everything seems to be at the same page, then money is the only thing that matters!
Wednesday, February 15, 2017
Anak PAUD tersinggung
Bapak ada marah - marah dengan Ike, si anak tengah, "lu ni, su mau 12 tahun tapi omong dengan lu sama ke omong deng anak PAUD sa. Musti ulang - ulang. Lu pi bikin sana!" Ju Nona, anak PAUD yang pas ada duduk nonton dengan dia pung kaka, tersinggung. "Ike, anak PAUD tu pintar. Lebe bae lu pi bikin sana!"
Ha ha ha ha..
Wednesday, February 8, 2017
Hoax
Tadi pagi dengar radio tentang kegelisahan insan pers di hari pers ini tentang hoax. Karena demikian bebasnya arus informasi, sudah sulit untuk memastikan apakah informasi itu benar atau tidak. Dengan fasilitas sekarang, informasi tidak benarpun dengan mudah disebarluaskan secara masif. Tidak ada kontrol, tidak ada sanksi untuk pelaku.
Hal ini benar adanya. Sampai-sampai Dewan Pers merasa perlu buat aksi khusus menahan hoax.
Saya pikir, hoax ini adalah berita bohong yang asalnya bisa dari mana saja oleh siapa saja dan tentang apa saja. Bahkan ada hoax yang kadang kita rasa, oh..alangkah baiknya kalau ini benar. Tapi kalau dulu, ada yang tidak disebut hoax, walaupun unsur bohongnya sama. Yakni bohong terstruktur, masif dan sistematis oleh rejim otoriter. Sama - sama bohong, tapi dilakukan oleh satu sumber, dengan satu tujuan dengan gunakan berbagai cara.
Kita, memang akan selalu bergelut dengan kebenaran.
Hal ini benar adanya. Sampai-sampai Dewan Pers merasa perlu buat aksi khusus menahan hoax.
Saya pikir, hoax ini adalah berita bohong yang asalnya bisa dari mana saja oleh siapa saja dan tentang apa saja. Bahkan ada hoax yang kadang kita rasa, oh..alangkah baiknya kalau ini benar. Tapi kalau dulu, ada yang tidak disebut hoax, walaupun unsur bohongnya sama. Yakni bohong terstruktur, masif dan sistematis oleh rejim otoriter. Sama - sama bohong, tapi dilakukan oleh satu sumber, dengan satu tujuan dengan gunakan berbagai cara.
Kita, memang akan selalu bergelut dengan kebenaran.
Friday, January 13, 2017
Indikator orangtua yang sukses
Namanya Ann, lengkapnya Anne Lafferty. Hampir dua tahun oma ini menjadi nyonya rumah kami di perantauan, Canberra, Australia. Umurnya, waktu itu, 82 tahun, seorang cancer survivor. Janda beranak 8 yang sudah bertahun-tahun hidup sendiri di rumahnya yang terbilang besar untuk ukuran Australia.
Ann dulu adalah seorang perawat. Suaminya, Kevin, dulu adalah ilmuwan yang mengajar di Australian National University. Sewaktu meninggal, Kevin sementara menjadi Director of John Hopkins Medical Research School. Dia termasuk pionir medical school ANU, seorang ahli mikrobiologi.
Sampai usianya yang ke-82, jangan harap Ann mengalami kemunduran berpikir. Dia sangat cerdas. Daya ingatnya luar biasa. Duduk ngobrol dengan Ann butuh berjam-jam, karena topik bisa melompat dari politik, sejarah, seni, dan skalanya global. Kalau mau ngobrol dengan Ann, minimal baca dulu berita setiap hari dan katamkan dulu buku-buku Jared Diamonds!
Anaknya yang 8 semua sarjana, beberapa mungkin post-grad. Kayaknya semua lulusan ANU. Sebagian besar lulusan School of Art. Tidak ada yang berkembang menjadi artis terkenal dan tinggal di kota besar nan gemerlap. Kebanyakan tinggal di kota-kota kecil atau bahkan desa-desa kecil dan mengelola workshop atau galeri idealisnya. Yang potter, yang painter. Karir paling mengkilap adalah salah satu anak yang menjadi stage designer di Sydney Opera House. Orang belakang layar.
![]() |
| Bersama 6 anak pertama. Ini foto passport waktu itu, karena passport anak-anak harus attached ke passport ibunya, maka fotopun harus bersama. |
Maka sayapun bertanya pada suami: menurut bapak, Ann itu sukses ko sonde sebagai orangtua? and this is the answer I got: 🙄🙄🙄
Monday, January 9, 2017
tiga nona pulang malam
Tadi malam ketemu tiga nona. GTO, gonceng tiga orang. Pakaian putih - hitam, dari ujung El Tari menuju Oebufu. Nil helem. Jam 11.30-an malam. Nampak seperti anak magang, entah di apotek, di hotel atau restoran, atau rumah sakit. Mereka yang harus pulang malam karena mencari hidup dan mengejar masa depan.
Pake mobil lengkap dengan seat-belt, saya berpikir: betapa tidak aman moda bertransportasi mereka.
Tapi saya mungkin, kemungkinan besar, salah. Mungkin, itulah cara yang paling aman dan terjangkau bagi mereka. Apa pilihan lainnya? Pake mobil sendiri: tidak punya! Pake motor satu - satu: tidak punya. Jalan kaki: selain mungkin terlalu jauh, juga..ah.. bisa bayangkan tiga cewek muda jalan tengah malam di Kupang? Sebagai mama dari remaja perempuan, saya kira Kupang sudah bukan tempat yang aman untuk remaja perempuan berjalan kaki tengah malam, dengan pakaian sesopan apapun. Naik angkot/bemo: aih, sudah terlalu banyak cerita miris tentang kekerasan seksual di angkot/bemo.
Jadi apa pilihan transportasi mereka? Ya itu tadi, GTO. Tapi minimal, pakailah helem 😟😟😟
Pake mobil lengkap dengan seat-belt, saya berpikir: betapa tidak aman moda bertransportasi mereka.
Tapi saya mungkin, kemungkinan besar, salah. Mungkin, itulah cara yang paling aman dan terjangkau bagi mereka. Apa pilihan lainnya? Pake mobil sendiri: tidak punya! Pake motor satu - satu: tidak punya. Jalan kaki: selain mungkin terlalu jauh, juga..ah.. bisa bayangkan tiga cewek muda jalan tengah malam di Kupang? Sebagai mama dari remaja perempuan, saya kira Kupang sudah bukan tempat yang aman untuk remaja perempuan berjalan kaki tengah malam, dengan pakaian sesopan apapun. Naik angkot/bemo: aih, sudah terlalu banyak cerita miris tentang kekerasan seksual di angkot/bemo.
Jadi apa pilihan transportasi mereka? Ya itu tadi, GTO. Tapi minimal, pakailah helem 😟😟😟
Subscribe to:
Posts (Atom)

